SEJARAH HARI RAYA GALUNGAN

Hari Raya Galungan sebagai rahina suci sudah selama lebih dari 1.000 [seribu] tahun lamanya dirayakan di Pulau Bali. Sejarah ini bisa diketahui dari lontar berbahasa Kawi [Jawa Kuno] yaitu Purana Bali Dwipa dan Kidung Panji Amalat Rasmi. Dalam kedua lontar kuno tersebut dipaparkan bahwa Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. 

Disebutkan : “Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya”. Artinya : Perayaan [upacara] Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Saat itu keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka [surga].


Kata Galungan berasal dari bahasa Kawi [Jawa Kuno] yang artinya “menang”. Maknanya menangnya dharma melawan adharma. Yaitu ketika kita bisa melenyapkan segala kegelapan pikiran [byaparaning idep], yang membuat pikiran terang benderang [galang apadang], sehingga tercapailah puncak kesadaran [samadhi].

Inilah penjelasan beberapa lontar kuno mengenai rahina suci Galungan, yaitu sebagai berikut :


1. PENAMPAHAN GALUNGAN
Intisari rahina suci Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala, yaitu melepaskan kekuatan negatif [butha kala] dari dalam diri manusia. Dengan cara "memotong" semua enam kegelapan pikiran [sad ripu] dari pikiran kita. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi”.

2. GALUNGAN
Intisari rahina suci Galungan adalah hari suci untuk melaksanakan upacara yang bertujuan agar alam semesta memberikan manusia getaran kekuatan suci, agar kita manusia mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana yang dari kesadaran Atma. Serta memberikan manusia kemampuan untuk membeda-bedakan antara kecendrungan keraksasaan [ashura sampad] dan kecendrungan kedewataan [daiwa sampad] dalam pikiran kita sendiri.

Dalam lontar Sundarigama, makna Galungan dijelaskan sebagai berikut : “Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep”. Artinya : Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, mencapai puncak kesadaran [samadhi] yang berasal dari pikiran yang terang benderang [galang apadang], dengan cara melenyapkan segala bentuk kegelapan pikiran [byaparaning idep].

Intisari rahina suci Galungan adalah melaksanakan upacara yang bertujuan agar alam semesta memberikan manusia getaran kekuatan suci, agar kita manusia mendapatkan pikiran dan perilaku yang terang. Segala kegelapan pikiran [byaparaning idep] adalah wujud adharma di dalam diri. Sedangkan pikiran dan perilaku yang terang, yang menghantar kita pada puncak kesadaran [samadhi], adalah wujud dharma di dalam diri.

Tujuan rahina suci Galungan adalah menangnya dharma dalam melawan adharma. Yaitu agar kita dapat melenyapkan segala kegelapan pikiran [byaparaning idep], yang membuat pikiran terang benderang [galang apadang], sehingga tercapailah puncak kesadaran [samadhi].

3. MANIS GALUNGAN
Setelah hari raya Galungan adalah hari Kamis Umanis Dungulan yang disebut Manis Galungan. Pada hari ini intinya adalah “waspada”. Setelah kesadaran terang, kita harus waspada agar tidak jatuh kembali ke dalam kegelapan pikiran. Sehingga baik sekali di hari Manis Galungan kita melakukan “imunisasi kesadaran” dengan cara banyak menolong, melakukan kebaikan-kebaikan, memberikan dana punia, meditasi, melukat ataupun tirtayatra.

Rahajeng Galungan ring Shanti

Suksma ageng Bhuana Alit lan Bhuana Shanti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

IKUTI BLOG INI