WEDAKARNA TEGASKAN SEMUA AGAMA DI BALI HARUS TUNDUK TERHADAP ADAT-ISTIADAT

Senator RI, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III
Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna tiba di Desa Candikuning Bedugul, selasa kemarin. Dalam kunjungannya Wedakarna disambut oleh beberapa masyarakat Candikuning.

Kedatangan Wedakarna di Candikuning merupakan tindaklanjut dari penolakan resmi Provinsi Bali atas wacana Desa Syariah dan Wisata Syariah di Bali yang ditandatangani di “Piagam Tantular” pada 26 Nopember 2015 lalu di Denpasar.

Didesa yang terdapat peninggalan leluhur Hindu yakni Candi Kuning dan Pura Ulun Danu Beratan ini, Senator RI Dr. Wedakarna mengadakan sosialisasi dihadapan tokoh Hindu dan Islam. Dalam pidatonya, Gusti Wedakarna mengingatkan filosophi Desa Adat peninggalan Empu Kuturan yang telah membagi 3 bagian wewidangan adat yakni Parahyangan, Pawongan dan Palemahan. Dan berbicara Parahyagan pasti berbicara tentang dresta dan budaya Hindu dan maka dari itu perlu toleransi dua arah terhadap hal ini. 


"Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP) Bali dan elemen Hindu Bali telah menolak yang namanya Desa Syariah dengan Piagam Tantular. Ini berarti, kedepan tidak ada wilayah di Bali yang tidak tunduk pada adat istiadat Bali yang dijiwai oleh agama Hindu. Dan saya akan terus mensosialisasikan hal ini kepada seluruh komponen adat di Bali. Termasuk eksistensi Desa Candi Kuning yang dikenal sebagai wilayah sakral umat Hindu dan juga penyangga dari Ibu Dewi Gangga Danau Bratan. Dan ini akan terus didukung," kata Wedakarna. 

Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Dihadapan Ratusan Umat Hindu dan 
Muslim Di Kawasan Pura Ulun Danu Beratan Desa Candi Kuning Bedugul Tabanan.

Iapun berpandangan bahwa hubungan kerukunan umat beragama di Bali harus dipelihara dan meminta kepada umat non-Hindu untuk bisa menjaga eksistensi desa adat. 

"Di Bali desa adat itu adalah desa adat Hindu. Dan walau dalam sejarah Bali ada kawasan atau desa yang diserahkan oleh Raja-Raja di masa lalu sebagai wujud toleransi, tapi tetap saja pakem Bali ini harus dihargai. Jadi jangan merubah desa adat Bali menjadi Desa Syariah, karena tidak ada sejengkal tanahpun di Bali tidak ada yang bukan wewidangan Desa Adat. Saya minta agar kawasan Candi Kuning dan Bedugul agar tetap menjadi kawasan beridentitas Bali. Jangan kearab – araban dan jangan kikis budaya Bali, hargai budaya Nusantara. Saya akan kawal pembangunan pariwisata berbasis budaya Hindu di Bedugul," tegas Gusti Wedakarna. 

Dan terkait dengan ancama ISIS, Gusti Wedakarna meminta Polri dan TNI untuk bisa mengawasi desa-desa yang bercorak heterogen di seluruh Bali. 

"Jangan lupa saat kejadian Bom Bali dulu, oknum teroris fundamentalis agama itu ada yang berasal dari local boy (Tamiu Non-Hindu Asal Bali). Pakai saja itu patokan bahwa tidak semua krama Bali itu berpikir baik terhadap Bali. Sehingga saya minta agar gerakan ISIS dan termasuk paham Wahabiyah yang dinilai tidak sesuai dengan Pancasila. Ini tidak lagi mengganggu Bali. Desa adat harus kuat dan syukurlah semua elemen Hindu Bali kini bersatu padu sejak adanya isu Desa Syariah," harap Gusti Wedakarna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

IKUTI BLOG INI